Terjatuh, kontak dengan benda tajam, tersiram air panas, dan kecelakaan merupakan beberapa hal yang bisa menyebabkan terjadinya luka pada tubuh kita. Selain itu tindakan operasi juga dapat meninggalkan luka.

Luka sendiri merupakan rusaknya integrasi sel atau rusaknya jaringan tubuh yang diakibatkan oleh cedera dan umumnya terjadi pada permukaan kulit.

Sebagai organ tubuh terbesar, kulit berperan melindungi tubuh dari berbagai jenis virus, jamur dan bakteri. Ketika mengalami luka, maka kuman bisa mudah menginfeksi tubuh.

Jenis-Jenis Luka

Secara umum jenis luka dapat dibedakan menjadi 2, yaitu berdasarkan luka bersih atau luka kotor. Ada 7 jenis luka yang kerap kita alami dan harus Anda pahami. Berikut penjelasannya:

  • Luka Sayatan: Luka ini biasanya disebabkan karena kontak dengan benda tajam seperti pisau. Sayatan akibat benda tajam menyebabkan area kulit terpotong dan kerap menimbulkan pendarahan.
  • Luka Lecet: Biasanya lecet terjadi karena adanya gesekan dengan benda kasar maupun terjatuh. Pada banyak kasus luka ini tidaklah berbahaya, namun kerap kali menimbulkan rasa nyeri atau sakit karena luka ini menjangkau banyak ujung saraf yang ada di bawah kulit.
  • Luka Tertutup: Luka ini terjadi di bawah jaringan bawah kulit dan kerap menyebabkan penggumpalan darah. Kondisi ini bisa terjadi karena adanya cedera pada tulang atau ligamen yang patah. Luka ini biasanya akan menyebabkan luka memar, namun bisa diatasi dengan penggunaan salep seperti Thromboflash
  • Luka Gigitan: Luka ini bisa disebabkan akibat gigitan gigi, baik hewan seperti nyamuk maupun manusia.
  • Luka Bakar: Kondisi ini bisa terjadi karena adanya kerusakan jaringan kulit akibat radiasi, thermis, bahan kimia, atau elektrik.
  • Vulnus Amputatum: Merupakan luka yang terjadi akibat terputusnya salah satu bagian tubuh atau amputasi.
  • Vulnus Perforatum: Pada jenis ini, luka menembus dan merobek dua sisi tubuh yang biasanya disebabkan oleh senjata tajam seperti tombak, panah, maupun infeksi yang bisa meluas hingga melewati selaput serosa/epithel jaringan tubuh.

Untuk luka bekas operasi sendiri tergolong ke dalam luka bersih karena dilakukan dengan teknik steril.

Proses Penyembuhan Luka

Sedangkan jika dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhan, maka luka bisa dibedakan menjadi 2 yaitu luka kronis dan luka akut. Luka kronis terjadi karena adanya faktor eksogen dan endogen dalam tubuh yang menyebabkan kegagalan dalam proses penyembuhan.

Lalu bagaimana proses penyembuhan luka terjadi? Berikut fase penyembuhan luka yang umumnya terjadi:

Fase Inflamasi

Ini merupakan fase awal dalam proses penyembuhan luka dan dalam kondisi ini pembuluh darah akan menyempit untuk menghentikan pendarahan.

Pada fase inflamasi ini juga dibagi menjadi 2 yaitu inflamasi awal dan inflamasi akhir.

  • Inflamasi Awal: Ketika luka terjadi trombosit yang berperan dalam membekukan darah akan berkumpul di area luka untuk menghentikan pendarahan.
  • Setelah pendarahan berhenti pembuluh darah akan melebar dan mengalirkan darah ke area luka tersebut. Akibatnya area luka terasa hangat, membengkak, dan kemerahan. 
  • Inflamasi Akhir: Setelah itu untuk mencegah infeksi dari berbagai bakteri dan mikroba maka sel darah putih akan membanjiri area luka. Selain itu sel darah putih juga memperbaiki jaringan yang rusak. Setelah itu secara bertahap sel kulit baru akan tubuh dan menutup area luka.

Fase Proliferasi

Pada proses penyembuhan luka yang kedua ini terjadi di hari ketiga hingga 2 minggu pasca luka terjadi. Pada fase ini terjadi pembentukan jaringan parut, dan kolagen mulai tumbuh di dalam luka.

Kolagen sendiri adalah protein yang berfungsi meningkatkan tensi dari permukaan kulit yang terluka.

Kolagen akan mendorong tepian luka semakin menyusut dan menutup. Fase proliferasi akan berakhir ditandai dengan tumbuhnya jaringan epitel. Epitel berfungsi meningkatkan aliran darah ke area luka.

Darah berperan dalam penyaluran nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan jaringan agar fase penyembuhan luka semakin lancar.

Fase Maturasi/Pematangan

Proses penyembuhan luka yang terakhir adalah tahap pematangan, dimana mulai terjadi pada hari ke-20 hingga 1 atau 2 tahun pasca luka terjadi.

Pada fase ini fibroblast yang menghasilkan jaringan parut akan terus berjalan dan mensintesis kolagen sehingga area luka akan semakin mengecil, elastisitas kulit menurun, dan muncul garis putih di sekitar area luka.

Setelah itu maka akan timbul jaringan parut dengan tensi dan kekuatan yang serupa dengan jaringan yang sudah rusak akibat luka. Namun pastinya area bekas luka tidak akan memiliki tampilan yang serupa dengan kulit sebelum terluka, terutama dari segi kelenturannya.

Proses penyembuhan luka pada tiap orang bisa berbeda karena ada banyak faktor yang mempengaruhi cepat atau lambatnya proses penyembuhan luka.

Mulai dari usia, asupan nutrisi, sistem kekebalan tubuh, obat yang dikonsumsi, obesitas, gaya hidup, maupun adanya riwayat penyakit yang menyebabkan proses penyembuhan luka terhambat seperti diabetes.