Menurut sebuah penelitian, satu dari empat orang pasti pernah mengalami diare. Diare adalah penyakit yang umum diderita oleh manusia. Pria atau wanita maupun dewasa atau anak-anak.

Secara umum diare bukan penyakit yang berbahaya dan dapat disembuhkan jika ditangani dengan cepat dan tepat. Namun jika dibiarkan berlarut-larut dan tidak kunjung ditangani dengan benar, dapat berakibat fatal bahkan membahayakan nyawa.

Apa itu Diare

Diare adalah penyakit yang menyebabkan penderitanya sering buang air besar (BAB) terus menerus serta tinja yang dikeluarkan encer.

Penyebab diare yang paling sering terjadi disebabkan oleh makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh virus, bakteri, atau parasit.

Namun ada juga diare yang disebabkan oleh kondisi medis tertentu dan intoleransi terhadap makanan.

Ketika mengalami diare, usus yang bertugas untuk menyerap makanan yang masuk tidak akan bekerja dengan baik. Usus tidak dapat menyerap air ketika proses pencernaan sehingga menyebabkan penderitanya mengeluarkan banyak air ketika BAB.

Cara mengatasi diare tidak terlalu rumit dan dapat dilakukan dengan segera. Baik dengan obat-obatan yang tersedia di apotek atau menggunakan bahan-bahan alami yang mudah didapatkan.

Tetapi jika sudah dilakukan penanganan di rumah dan diare tak kunjung pulih, maka sebaiknya segera periksakan kondisinya ke dokter untuk segera ditangani. 

Kenapa Anak Sering Menderita Diare

Penyakit diare menyerang sistem pencernaan tubuh. Saat seseorang mengalami diare, proses pencernaan tubuh akan terganggu. 

Diare akan lebih mudah menyerang anak-anak karena daya tahan tubuh yang masih lemah serta saluran pencernaannya masih sangat rentan.

Infeksi virus, bakteri, atau parasit masih menjadi penyebab utama penyakit diare yang diderita oleh anak-anak. Infeksi ini dapat berasal dari mana saja. Mulai dari faktor lingkungan, sanitasi yang tidak bersih, alergi, hingga makanan yang dikonsumsi. 

Diare yang diderita oleh anak-anak harus segera ditangani. Karena daya tahan tubuh anak-anak masih belum sempurna maka penyakit diare dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang paling sering diderita oleh anak-anak khususnya di negara berkembang dan angka kematiannya cukup tinggi.

Kasus Diare Pada Anak di Indonesia

Bayi, balita, dan anak-anak sangat rentan terhadap diare. Di Indonesia sendiri, diare merupakan penyebab kematian bayi kedua setelah pneumonia.

Menurut data yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI, anak-anak yang terjangkit diare di Indonesia sepanjang 2018 mencapai 4 juta orang.

Penyebab utama diare pada bayi antara lain infeksi rotavirus, infeksi bakteri lain dari benda-benda kotor di sekitar, alergi, susu formula yang tidak diolah dengan tepat, keracunan makanan, flu, atau konsumsi antibiotik. 

Meskipun diare merupakan jenis penyakit yang umum dan mudah disembuhkan. Tetapi jika penyakit ini menyerang bayi dan anak-anak dapat berbahaya bahkan dapat menyebabkan kematian.

Penyebab Diare yang Sering Terjadi Pada Anak

Bayi dan anak-anak belum memiliki daya tahan tubuh yang baik serta saluran pencernaan yang masih sangat rentan. Hal ini membuat virus, bakteri, atau asupan makanan yang tidak tepat dapat menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan sehingga memicu diare. 

Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa penyebab diare yang sering terjadi pada anak-anak.

Virus Rotavirus

Rotavirus adalah virus yang menginfeksi usus. Virus ini merupakan penyebab utama diare yang banyak terjadi pada anak-anak di dunia khususnya di Indonesia. 

Bayi dan anak-anak rentan terkena virus ini ketika kebersihannya tidak dijaga.

Rotavirus  biasanya dapat ditularkan dari fecal-oral, yaitu penyebaran virus dari feses penderita yang tidak sengaja masuk ke mulut seperti kontak dengan air, makanan, tangan, dan objek lain yang terkontaminasi. 

Untuk menghindari penyebaran virus ini, jaga baik-baik kebersihan anak dan Anda ketika mengganti popok atau membersihkan anak yang baru BAB. Virus ini juga dapat menempel dan menyebar pada benda di sekitar.

Intoleransi Laktosa

Setiap orang memiliki tingkat toleransi yang berbeda terhadap beberapa jenis tertentu. Intoleransi terhadap satu jenis makanan ini bisa jadi penyebab utama Anda terserang diare.

Intoleransi ini terjadi karena kelainan pada tubuh seseorang yang tidak memiliki enzim untuk mencerna kandungan makanan tertentu yang dikonsumsi.

Biasanya, diare yang muncul akibat intoleransi makanan akan datang sekitar 30 menit hingga 2 jam setelah Anda mengonsumsi makanan tersebut.

Jenis makanan yang cukup banyak dialami yaitu intoleransi laktosa (gula alami pada produk susu) serta intoleransi gluten (protein alami pada gandum dan produk olahannya, misalnya makanan yang terbuat dari tepung seperti roti, pasta, dan sebagainya).

Alergi

Diare yang disebabkan oleh alergi paling sering terjadi pada bayi yang berusia 0-6 bulan. Sistem pencernaan bayi belum sempurna sehingga rentan mengalami alergi.

Meskipun pada usia tersebut bayi masih mendapatkan ASI eksklusif, namun alergi masih dapat muncul karena makanan yang dikonsumsi oleh ibunya.

Makanan yang dikonsumsi oleh ibu menyusui seperti susu dan makanan olahan susu, makanan berprotein, makanan pedas, makanan asam, dan kafein dapat memicu alergi pada bayi. 

Sebaiknya kurangi atau hindari terlebih dahulu mengonsumsi jenis makanan tersebut terlebih dahulu.

Gejala Diare Pada Anak

Gejala utama ketika anak menderita diare adalah sering BAB serta konsistensi tinja yang dikeluarkan encer atau mencret. Tapi ketika hal ini terjadi pada anak, jangan Anda langsung simpulkan jika gejala ini adalah diare. 

Gejala BAB sering dan mencret adalah hal yang wajar terjadi pada anak-anak. Untuk itu, Anda perlu tahu lebih banyak lagi mengenai gejala-gejala yang sering timbul ketika anak mengalami diare. Diantaranya adalah

  • Anak tampak lemas dan pucat
  • Mata cekung
  • Mulut dan bibir kering
  • Tubuh dingin
  • Air seni sedikit dan berwarna kuning pekat
  • Air mata sedikit atau sama sekali tidak keluar ketika menangis
  • Mengantuk terus-menerus

Jika anak mengalami BAB yang sering, mencret, dan beberapa gejala di atas, kemungkinan besar anak mengalami diare. Segera lakukan penanganan agar kondisinya cepat pulih.

Apabila Anda tidak yakin apakah anak mengalami diare, segera periksakan dan konsultasikan kondisinya kepada dokter untuk diberikan tindakan. 

Periksakan ke Dokter Jika

Penyakit diare yang diderita anak dapat segera dicegah dan diobati. Ketika gejala-gejala diare mulai dialami oleh anak, segera tangani agar diare tidak terjadi berlarut-larut. 

Namun ketika tindakan di rumah sudah dilakukan namun anak tetap mengalami diare dan mengalami gejala di bawah ini, segera periksakan ke dokter agar dapat segera ditangani secara medis. 

Beberapa tanda-tanda yang perlu Anda waspadai antara lain:

  • Buang air besar (BAB) jadi lebih sering dan konsistensinya semakin cair
  • Sering muntah-muntah
  • Anak selalu haus
  • Sulit untuk makan atau minum karena kehilangan nafsu makan
  • Demam
  • Terdapat darah pada feses
  • Diare tidak kunjung membaik selama tiga hari

Pertolongan Pertama Ketika Anak Diare

Ketika anak mengalami diare, Anda tidak perlu panik. Ketika bayi yang berusia di bawah 6 bulan mengalami diare, air susu ibu (ASI) dapat diberikan untuk mengatasi diare. 

Setiap kali bayi mengalami mencret atau muntah, berikan tambahan ASI agar bayi kehilangan cairan tubuh. ASI juga bermanfaat untuk membunuh kuman, bakteri, atau virus yang menyerang bayi.

Bagi anak yang berusia lebih dari 6 bulan, larutan oralit dapat diberikan untuk menangani masalah diare. Oralit adalah obat yang cairan untuk mengganti cairan elektrolit dan mineral yang ada di dalam tubuh akibat dehidrasi. 

Dehidrasi adalah kondisi tubuh seseorang yang kehilangan banyak cairan di dalam tubuhnya. Dalam kasus ini, ketika anak mengalami diare, ia akan banyak mengeluarkan banyak cairan di tubuhnya.

Dosis oralit yang perlu diberikan kepada bayi dan anak-anak adalah sebagai berikut:

  • Bayi usia di bawah 2 tahun: 15 ml cairan oralit per kg berat badan, satu hari sekali.
  • Anak-anak usia 2-10 tahun: 50 ml cairan oralit per kg berat badan dalam 4-6 jam pertama, kemudian 100 ml per kg berat badan pada 18-24 jam setelahnya.

Obat antidiare sebaiknya tidak diberikan kepada bayi atau anak yang berusia di bawah 12 tahun. Karena hal ini dapat memberikan efek samping yang serius.

Mengatasi Dehidrasi Ketika Anak Diare

Salah satu cara untuk segera mengatasi diare adalah dengan mencegah dehidrasi. Diare yang terus-menerus dan tidak segera ditangani akan menyebabkan dehidrasi yang dapat berbahaya bagi tubuh terutama anak-anak.

Mengonsumsi cairan alami pengganti cairan tubuh seperti Renalyte bisa Anda lakukan ketika anak mengalami dehidrasi akibat diare dan muntah.

Renalyte adalah larutan rehidrasi dan merupakan formulasi dari WHO. Renalyte cocok juga dikonsumsi untuk anak-anak karena memiliki rasa cocopandan yang enak dan juga steril.

Cara Mencegah Diare Pada Anak

Pastikan anak rajin mencuci tangan dengan benar, terutama setelah menggunakan toilet dan sebelum makan.

Mencuci buah dan sayuran dengan baik sebelum diolah dan dimakan. Demikian juga peralatan masak, cuci dengan bersih sebelum dan sesudah digunakan.

Hindari minum dari sumber air yang tidak dapat dipastikan kebersihannya, seperti air sungai atau danau.

Jaga kebersihan lantai dan berbagai permukaan kamar mandi.

Hindari mencuci kandang hewan peliharaan atau mangkuk makanan hewan di bak cuci yang sama dengan yang digunakan untuk mencuci peralatan masak dan peralatan makan.

Makanan yang Baik Untuk Mencegah dan Mengobati Diare Pada Anak

Oralit serta menjaga rehidrasi tubuh penting dilakukan untuk mengobati diare, terutama pada anak. Namun, asupan makanan pun masih perlu Anda berikan agar tubuh anak tetap mendapatkan pasokan energi. 

Pilih makanan-makanan yang lembek dan mudah dicerna oleh anak, serta hindari untuk memberikan makanan yang mengandung banyak serat. Makanan lunak diperlukan agar sistem pencernaan anak tidak bekerja terlalu berat ketika harus mengolah makanan yang masuk. 

Berikan makanan dengan porsi yang lebih sedikit dari biasanya namun frekuensinya lebih sering agar tubuh dapat mencernanya perlahan-lahan.

Beberapa jenis makanan yang baik diberikan pada anak ketika diare adalah:

  • Nasi tim atau bubur
  • Roti
  • Daging ayam atau daging ikan yang direbus atau dipanggang
  • Sayuran matang yang tidak banyak mengandung serat, seperti wortel
  • Kentang rebus atau panggang
  • Telur matang
  • yoghurt

Makanan yang Perlu Dihindari Ketika Anak Diare

Jenis-jenis makanan keras, berminyak, produk olahan, maupun makanan cepat saji perlu dihindari ketika anak mengalami diare.

Makanan tersebut akan membuat sistem pencernaan akan bekerja yang lebih ketika harus mencernanya. Saat diare, sistem pencernaan tubuh tidak dapat bekerja dengan baik dan kondisinya akan semakin parah jika harus mencerna makanan tersebut.

Selain itu, makanan yang mengandung banyak gas seperti kol, brokoli, asparagus, buncis, dan  kacang-kacangan juga perlu dihindari.

Facebook
Twitter
LinkedIn