Kita sering sekali jarang menyadari ketika tubuh kita sebenarnya sedang dehidrasi. Cara sederhana yang biasa kita gunakan untuk melihat apakah kita dehidrasi adalah dengan melihat warna urine.

Padahal risiko dehidrasi serius bisa berujung pada kematian. Derajat dehidrasi juga berbeda-beda, baik untuk orang dewasa maupun anak-anak. Bagaimana cara mengetahui derajat dehidrasi bagi orang dewasa dan anak-anak?

Tubuh kita sebagian besar terdiri dari air, yaitu sebanyak 70 persen. Beberapa organ tubuh juga mengandung air, seperti paru yang 90 persen adalah air. Air memainkan peranan penting di tubuh kita mulai dari menjaga suhu tubuh hingga menjadi pelumas bagi sendi-sendi kita.

Untuk itulah kita dianjurkan untuk mengonsumsi air setidaknya 2 liter dalam sehari. Sangat penting bagi kita untuk menjaga tubuh agar selalu terhidrasi.

Dehidrasi tidak sesederhana yang selama ini kita kira. Baik itu bagi orang dewasa maupun anak-anak.

Derajat Dehidrasi Anak dan Dewasa

Agar dapat mengetahui derat dehidrasi dapat diketahui berdasarkan dari persentase kehilangan air dari total berat badan. Derajat dehidrasi sendiri terdiri dari tiga tingkatan, yakni ringan, sedang, berat.

Pada orang dewasa, jika tubuh sudah kehilangan 4% cairan dari total berat badan, maka sudah masuk dehidrasi tingkat ringan. Untuk anak-anak dan bayi 5% dari berat badan mereka.

Tingkat dehidrasi sedang, pada orang dewasa sebesar 6% dari berat badan dan 10% dari berat badan pada anak dan bayi.

Jika sudah mencapai 8% dari berat badan pada orang dewasa dan 15% dari berat badan anak atau bayi, maka dehidrasi telah tergolong berat. 

Ada perbedaan derajat dehidrasi antara orang dewasa dan anak atau bayi. Anak dan bayi  (terutama di usia balita) sangat rentan mengalami dehidrasi karena komposisi air tubuh yang lebih banyak, fungsi ginjal yang belum sempurna, dan masih tergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhan cairan di tubuhnya.

Selain itu, mereka juga mudah sekali mengalami penurunan berat badan.

Derajat dehidrasi berdampak pada tanda-tanda klinis. Semakin berat derajat dehidrasi maka semakin nyata gangguan hemodinamik. 

Dehidrasi Ringan

Dehidrasi ringan ditandai dengan rasa haus, dan rasa perih pada tenggorokan. Selain itu akan ada rasa kulit yang menjadi kering, atau bibir pecah-pecah. Mungkin juga akan membuat kita merasa pusing. Dehidrasi ringan bisa dihilangkan dengan segera minum air putih.

Dehidrasi Sedang

Dalam tahap ini, Anda akan mengetahui bahwa dehidrasi sudah mulai masuk ke tahap yang serius ketika detak jantung berdebar lebih cepat dari biasanya. Tubuh juga akan mulai terasa lemas dan warna urine berwarna pekat. Dehidrasi tingkat sedang bisa mengakibatkan tekanan darah meningkat sehingga si penderita akan mengalami sakit kepala.

Dehidrasi Berat

Tingkat dehidrasi ini sangatlah parah. Sekujur otot di tubuh akan merasa kram, dan lidah terasa bengkak. Tubuh akan kehilangan dayanya dan kehilangan kesadaran. Pembiaran pada tahap dehidrasi ini bisa merusak organ ginjal yang menyebabkan ginjal kehilangan fungsi-fungsi utamanya. Dehidrasi berat juga membuat penderitanya berhalusinasi.

Pada bayi, tanda-tanda mereka sudah mengalami dehidrasi parah bisa diketahui dari tangan kaki yang mendingin dan mata yang sudah cekung. Saat bayi sudah mengalami dehidrasi berat, waspada bayi akan mengalami kejang, menderita infeksi saluran kemih. syok hipovolemik (kondisi ketika jantung tidak mampu memasok darah yang cukup ke seluruh tubuh).

Perhatikan Kebutuhan Air

Oleh sebab itu sangat penting bagi kita semua untuk dapat memenuhi kebutuhan cairan tubuh agar terhindar dehidrasi. Caranya dengan memperhatikan rata-rata kebutuhan tubuh kita akan air. Ada perbedaan rata-rata kebutuhan air, perempuan 1, 6 liter per hari, laki-laki 2 liter. Sedangkan lansia yang sudah berusia 65 ke atas membutuhkan air kira-kira 1,5 liter perhari dan anak-anak usia 4-12 tahun 1,6 liter air per hari.

Bagi ibu hamil dan menyusui kebutuhan mereka akan air lebih banyak lagi karena mereka harus memenuhi kebutuhan air bukan hanya untuk tubuh mereka tapi juga bayi mereka. Ibu hamil perlu menambahkan 300 ml atau segelas air. Sedangkan untuk ibu menyusui perlu menambahkan 700 ml atau sekitar tiga gelas air.

Biasanya, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengalami dehidrasi ketika mereka diare. Bukan tanpa sebab, saat diare kita mengeluarkan banyak cairan tubuh dan kehilangan elektrolit. Disaat bersamaan pula usus tidak menyerap elektrolit dan cairan. Jika sedang diare, segera obati dengan oralit, 5-10 menit setelah diare.

Karena sudah kehilangan banyak cairan, saat diare sangat dianjurkan untuk meminum sirup pengganti cairan tubuh yang mengandung elektrolit.  Hal ini berguna juga untuk membantu penyembuhan, karena tubuh butuh cairan dan elektrolit.

Saat ini juga sudah banyak larutan yang mengandung elektrolit, salah satunya adalah Renalyte. Renalyte dibuat dengan komposisi formulasi dari WHO, sehingga membuat Renalyte bisa menjadi pilihan yang tepat untuk mengembalikan cairan tubuh.

Selain itu, Renalyte juga tersedia dengan rasa cocopandan yang enak dan steril. Elektrolit sendiri banyak terkandung dalam kelapa. Ini menjadikan Renalyte semakin sesuai jadi larutan pendamping untuk mengembalikan cairan tubuh. Renalyte dapat didapatkan tanpa resep dokter.

Facebook
Twitter
LinkedIn