Sejak ditemukan pada 1916-an dan mulai dipergunakan secara massal pada 1950-an, heparin dikenal sebagai obat yang punya fungsi untuk mencegah penggumpalan darah.

Namun, ternyata heparin juga punya fungsi lain yaitu sebagai sepsis atau peradangan. Sebagai pengencer darah, heparin dibuat dari sodium yang diekstrak dari sapi namun juga ada heparin yang dibuat dari ekstrak babi. Seperti apakah itu?

Heparin dari Babi

Penggunaan ekstrak babi pada obat heparin sendiri sudah diproduksi sejak awal 1990 dan tanpa laporan efek samping. Hal ini berawal dari banyaknya penyakit sapi gila di Inggris pada 1980-an yang menimbulkan kekhawatiran dari pembuatan heparin menggunakan sapi.

Semua produsen heparin pun menarik dengan sukarela produknya dari pasar AS. Sejak saat itu, babi sepenuhnya digunakan untuk produksi heparin di AS dan Eropa. 

Di Indonesia sendiri, untuk heparin berat molekul tinggi menggunakan heparin sapi sedangkan heparin berat molekul rendah berasal dari babi, karena sampai saat ini belum ada alternatif dari bahan baku halal lain seperti sapi.

Penggunaan Babi dalam Dunia Farmasi

Penggunaan babi dalam dunia kesehatan bukanlah sesuatu yang baru. Sebut saja dalam dunia farmasi salah satunya. Beberapa tahun lalu bahkan BPOM sebagai lembaga pengawas obat menarik dua jenis suplemen tulang yang sudah terkenal karena menemukan adanya kontaminasi DNA babi.

Penarikan langsung dilakukan karena kedua suplemen tersebut melanggar izin edar dengan tidak mencantumkan keterangan tidak halal pada kemasan.

Sebenarnya babi punya manfaat besar dalam dunia farmasi dan kesehatan. Bayangkan saja, bagian tubuh babi seperti pankreas, lapisan perut, dan usus halus digunakan dalam produk jadi seperti insulin, heparin, pepsin. Jaringan dari babi lainnya dipergunakan untuk mengobati luka, menyembuhkan jaringan kulit yang rusak. 

Bahkan yang terbaru, dan sedang dalam pengembangan, organ babi disebut bisa ditransplantasikan ke manusia. 

Alasan Penggunaan Babi

Penggunaan babi dalam dunia kesehatan adalah dikarenakan sistem biologis babi dan manusia mempunyai kemiripan. Kemiripan tersebut mencapai 80-90% baik dari anatomi maupun secara fungsinya.

Jadi bisa dikatakan, ketika sesuatu berfungsi pada babi, maka akan berfungsi juga pada babi.

Jantung babi kurang lebih punya bentuk dan ukuran yang sama dengan manusia. Bahkan binatang yang satu ini juga mengembangkan radang pembuluh darah, dan serangan jantung layaknya manusia. Untuk sebab itu, para peneliti banyak belajar cara kerja jantung manusia dari babi. 

Selain itu, babi yang pemakan segala atau omnivora layaknya manusia menyebabkan fisiologi dari pencernaan dan proses metabolisme mirip dengan manusia.

Tidak hanya pada bentuk jantung, persamaan organ yang lain seperti ginjal yang punya ukuran yang sama dan kulit yang punya fungsi penyembuhan sama seperti manusia. Oleh sebab itu babi banyak dipergunakan dalam operasi plastik selama beberapa dekade belakangan ini.

Sementara dalam dunia farmasi menurut IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) menjelaskan mengapa babi banyak digunakan dalam dunia farmasi.

Seperti penggunaan gelatin babi untuk cangkang obat, adalah karena efek gelatin babi yang mudah larut sehingga obat pun bisa langsung diserap.

Selain itu gelatin babi juga digunakan untuk bahan obat yang sulit tercampur, campuran ini bisa dalam bentuk sirup, kapsul, krim maupun salep. Dalam dunia farmasi kandungan babi yang paling banyak digunakan adalah gelatin.

Bahaya  Babi dalam Heparin

Penggunaan babi sebagai pembuat heparin sendiri punya catat hitam dalam dunia farmasi. Tercatat pada 2007-2008 heparin berbahan babi menewaskan 150-an dan membuat cacat ratusan lainnya pasien di Amerika Serikat.

Hal itu karena penggunaan heparin palsu dari China. Amerika memang menggantungkan impor heparin babi mereka sebanyak 75% dari China.

Pada periode itu di China sendiri sedang sedang ada wabah yang dikenal dengan nama telinga biru, yang memusnahkan hampir seluruh populasi babi. Padahal, usu babi adalah bahan baku untuk heparin.

Harga babi pun semakin mahal di China, para produsen kemudian mengakalinya dengan mengganti babi mentah dengan bahan baku lainnya, over-sulfated chondroitin sulfate (OSCS) dari tulang rawan hewan lain, yang tentu saja harganya jauh lebih murah. 

Namun ternyata, heparin dari babi palsu ini mendatangkan berbagai efek samping yang parah. Seperti tekanan darah rendah yang berbahaya karena kontaminasi dan pencemaran dari obat-obatan.

Setelah kejadian ini heparin impor dari China langsung diperketat, China sendiri adalah pemasok 70% heparin yang dipergunakan di seluruh dunia. 

Di Indonesia di mana masyarakatnya mayoritas muslim, penggunaan babi juga mendapat pengawasan ketat baik dari MUI sebagai penjamin kehalalan dan BPOM sebagai pengawas.

Masyarakat sudah sadar betul tentang pentingnya kehalalan dari apa yang mereka konsumsi, termasuk salah satunya obat. Penggunaan babi sebagai bahan pembuat obat di Indonesia juga tidak bisa ditampikan, karena khasiatnya dan belum adanya alternatif lain sebagai pengganti. 

Lalu, bagaimana dengan pasar heparin di Indonesia, adakah obat yang mengandung heparin halal dan diperjualkan secara bebas tanpa resep dokter?

Beruntungnya, ada. Ini adalah salah satu produk dari Fahrenheit, Thromboflash yang mengandung heparin dari protein sapi dan sudah mendapatkan sertifikasi halal dari MUI.

Thromboflash berbentuk salep yang dapat mengobati dan mencegah gangguan pembuluh darah seperti luka dalam alias lebam atau memar. Salep Thromboflash juga masuk dalam golongan obat yang bisa didapatkan tanpa resep dokter. Dengan begitu Anda tetap aman memakai heparin yang halal.